Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah
Belajar Konversi Gas Dari Negara Lain
Asap hitam, dan api menjilat langit Lagos, Nigeria, 10 Januari lalu. Jalan utama di kota itu padat demonstran. Mereka warga Nigeria yang mengamuk. Penguasa di negeri penghasil minyak ke-10 terbesar di dunia itu dituding korup, dan zalim.
Lebih dari sepekan sebelumnya, ketegangan merayap di Nigeria. Pemerintah mencabut subisidi bahan bakar minyak (BBM) sejak 1 Januari 2012. Harga minyak pun melonjak dua kali lipat. Sebelumnya hanya $1,7 per gallon, atau 45 sen per liter. Kini, warga harus merogoh US$3,5 per gallon, atau 94 sen per liter.
Itu sebabnya para warga berdemonstrasi di jalan, di kota bagian utara negeri itu. Melambungnya harga minyak, menyeret harga-harga lain. Bahan makanan turut melangit. Ongkos transportasi juga melonjak. Padahal, pengeluaran individu di sana hanya US$2 per hari.
"Ini oligarki, bukan demokrasi," pekik Danjuma Mohammed yang kala itu menggengam obor api di tangannya seperti dilaporkan laman USA Today. "Kami tak lagi takut kepadamu. Kami siap berperang."
Minyak, apa boleh buat, adalah hajat hidup orang banyak. Itu mungkin sebabnya, Indonesia pun berhati-hati dalam setiap niat menaikkan harga minyak. Pada 2005, pemerintah menaikkan harga BBM sekitar 30 persen. Pilihan sulit, namun memberi subsidi terlalu berat bagi kas negara. Apalagi, subisidi itu kerap tak tepat sasaran.
Alternatif lain adalah menyiapkan bahan bakar lebih murah. Itu sebabnya, setelah memutuskan pembatasan BBM bersubsidi berlaku per 1 April nanti, pemerintah mengkampayekan program konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG). Dua jenis BBG, kini seolah tak asing lagi di telinga masyarakat, Liquid Gas for Vehicle (LGV) dan Natural Gas Vehicle (NGV).
Di Amerika Serikat (AS), penggunaan gas sebagai bahan bakar kendaraan bukanlah barang baru. Laman beaconite.com melaporkan, penggunaan NGV untuk kendaraan pertama kali diujicoba pada 23 Oktober 1970. Kala itu, sebuah pesawat roket, The Blue Fame, yang dikemudikan oleh Gary Gabelich mencetak rekor kecepatan 622,407 mil per jam di Bonneville Salt Flats, Utah, AS.
Pengembangan NGV pun dimulai oleh mantan pegawai Institute of Gas Technology, IGT itu. Gary berambisi besar mengembangkan LNG untuk kendaraan, khususnya mobil roket bertenaga gas. Proyek The Nothern Illinois Gas Company dan IGT itu pun dilirik oleh American Gas Association.
Jauh sebelumnya, gas sudah dipakai untuk kendaraan bermotor pada 1930. Inovasi ini lalu berlanjut setelah berakhirnya Perang Dunia II. Walau telah dikembangkan, penggunaan NGV ini sama sekali tak pernah muncul di jalan-jalan di AS.
Seiring kampanye global bagi kelestarian alam, dan menipisnya pasokan minyak mentah sementara harganya terus melambung, bahan bakar gas bagi kendaraan pun dilirik kembali.
Bank Dunia mencatat, konsumsi Compressed Natural Gas (CNG) dan LNG Vehicle di AS mencapai 385 juta meter kubik pada 2000. Sementara International Association for Natural Gas Vehicle (IANGV) melaporkan jumlah kendaraan lalu lalang di jalanan menggunakan BBG mencapai 1,5 juta unit dari 46 negara di dunia.
Gas di Negeri Tango
Argentina mungkin harus dicatat sebagai cerita sukses konversi bahan bakar ini. Mulus tanpa gejolak, negara di Amerika Selatan itu memulai program konversi BBM pada 1984. Saat ini, sedikitnya 668 ribu kendaraan BBG lalu lalang di sana. Padahal stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) masih sedikit, hanya 923 unit. Bandingkan di AS, yang punya 1.250 unit.
Negeri Tango itu awalnya menjalankan program konversi bertajuk The Liquid Fuels Substitution Program. Sebelumnya, mereka merasa cukup cadangan minyak dan gas alamnya. Tapi pada akhir 2000, cadangan minyak terbukti diperkirakan hanya bisa bertahan 10 tahun lagi. Cadangan gasnya, hanya 20 tahun. Argentina pun mulai mencari solusi mengatasi kemungkinan sulitnya pasokan BBM.
Ketika program itu substitusi itu dijalankan, pemerintah Argentina hanya membangun dua SPBG. Awalnya, kendaraan dinas dan taksi diwajibkan memakai BBG. Tak ada subisidi apapun. Soalnya, ekonomi negeri itu belum begitu baik juga.
Lalu, program pun berlanjut. Ada regulasi standar keamanan, kualitas, mulai dari silinder gas, conversion kits, bengkel alat-alat konversi, kompresor, dispenser, prosedur pemasangan , dan berbagai aturan lain. Argentina juga menyewa agen sertifikasi internasional.
Setelah persiapan cukup, mulai akhir 1990-an, pemerintah pun memutuskan menaikkan harga solar eceran. Memang, tujuan dari program konversi ini adalah mengalihkan penggunaan BBM oleh transportasi publik ke BBG. Tapi, kebijakan itu tak mudah. Harga BBG dan solar tak terpaut jauh. Harga solar pernah lebih rendah, dan baru mencapai puncaknya pada 1999.
Program substitusi BBM ke BBG di Argentina itu harus diakui tak akan berhasil tanpa campur tangan pihak swasta. Dalam rentang 1985 hingga 1999, investasi langsung di industri NGV tercatat mencapai US$1,5 miliar. Kini, kendaraan di Argentina sebagian besar adalah bi-fuel vehicle, dengan bensin dan gas.
Kini, setelah 28 tahun berlalu, Argentina bisa menikmati hasil jerih payah itu. Industri NGV di sana bisa menghasilkan uang sebesar US$0,65 miliar per tahun. Setidaknya 1,5 miliar meter kubik gas alam cair terjual untuk kebutuhan bahan bakar transportasi umum. Angka ini setara konsumsi BBM bagi 3 pembangkit listrik 500 megawatt.
Kini, pasar NGV di negara itu sudah berkembang pesat. Industri NGV, dari perakitan kompresor, dispenser, silinder gas, pemasangan converter kits, seluruhnya dilakukan swasta. BBG pun jadi barang laris manis.
Selandia Baru, si perintis
Selandia Baru harus dicatat sebagai negara perintis penggunaan CNG bagi kendaraan bermotor. Mereka mulai pada 1980-an, setelah dunia diterjang krisis, dan mereka sadar betapa tinggi ketergantungan negeri Kiwi itu ke luar negari untuk urusan BBM. Alternatif pun dicari.
Pada 1969, Selandia Baru sebetulnya menemukan cadangan minyak mentah di tambang lepas pantai. Tapi pada 1970-an, ada prediksi yang mengatakan temuan minyak itu toh tak bakal mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Pilihannya hanya satu, Selandia Baru harus menggunakan bahan bakar alternatif. BBG lalu menjadi targetnya.
Langkah besar pun dilakukan. Pemerintah memberikan dukungan penuh pada upaya adopsi CNG sebagai bahan bakar kendaraan umum pada 1974. Berdasarkan penelusuran, dan sejumlah rekomendasi, pemerintah Selandia Baru akhirnya memutuskan targat pengguna CNG sebanyak 150 ribu unit hingga 1985. Target itu lalu direvisi menjadi 200 ribu unit pada 1990.
Saat program dimulai, hanya ada 100 kendaraan yang menggunakan CNG. Tak hanya itu, jumlah SPBG di seluruh wilayah Selandia Baru juga hanya ada dua unit. Tak puas dengan pencapaian itu, pemerintah pun membentuk CNG Coordination Committee (CCC) yang bertugas mengatur sektor swasta dan pemerintah. Kementerian Energi Selandia Baru kala itu memimpin lembaga tersebut.
Berbagai inisiatif terus ditelurkan oleh pemerintah Selandia baru untuk menggolkan program konversi ini. Kali ini, pemerintah memutuskan pemberian insentif pendanaan kepada kendaraan yang menggunakan BBG dan membangun SPBG. Uang sebesar NZ$200 pun disiapkan sebagai jaminan untuk conversion kits, 25 persen dialokasikan untuk pinjaman perlengkapan mekanik SBPG.
Sama seperti Argentina, pemerintah Selandia Baru menggelar serangkaian program NGV, seperti pelatihan, penyusunan standarisasi untuk kendaraan dan SPBG, serta gencar berkampanye.
Satu langkah lain yang menjadi obesesi terbesar Selandia Baru adalah mengembangan industri CNG lokal. Hasilnya, tak kurang dari setahun, SPBG semakin menjamur di Selandia Baru dan antrian kendaraan yang ingin mengisi BBG selama setengah jam merupakan hal biasa di negara tersebut.
Indonesia, dengan penduduk 240 juta dan baru menggelar program konversi BBG, mungkin perlu belajar dari pengalaman dua negara itu.(np)
sumber: vivanews.com
- 707 kali dibaca









