Website Resmi - Official Website
Pemerintah Kabupaten Kerinci
 
 
Kamis, 18 March 2010
  Online Help Desk :
   Sabrun :
   Dores :
   Noverman :



EMAIL LOGIN SKPD
 

 Username (email):
   Password:
       
 

AGENDA KAMI

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merefleksikan peningkatan produksi seluruh barang-barang dan jasa-jasa dalam suatu perekonomian. Pada tingkat perekonomian wilayah atau regional, nilai produksi keseluruhan barang-barang dan jasa-jasa tersebut dinyatakan sebagai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Nilai PDRB dapat dihitung berdasarkan harga yang berlaku pada setiap saat barang-barang dan jasa-jasa diproduksi atau dihitung berdasarkan harga yang berlaku pada suatu tahun tertentu sebagai tahun dasar. Perhitungan pertama menghasilkan nilai PDRB nominal atau PDRB berdasarkan harga berlaku, sedangkan perhitungan kedua menghasilkan nilai PDRB rill atau PDRB berdasarkan harga konstan. Nilai PDRB rill menghilangkan efek kenaikan harga sehingga angkanya benar-benar mencerminkan kenaikan produksi seluruh barang-barang dan jasa-jasa yang tingkat kenaikannya disebut sebagai laju pertumbuhan ekonomi daerah.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kerinci mencapai 5,01 persen per tahun selama periode 2000-2008 yang ditunjukkan oleh kenaikan PDRB rill dari  Rp 677.081,23 juta pada tahun 2000 menjadi Rp 1.000.752,44 juta pada tahun 2008. Bila disimak perkembangannya per tahun, laju pertumbuhan ekonomi meningkat secara konsisten selama periode 2000-2007 kemudian melambat pada tahun 2008 bersamaan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi dan perekonomian nasional sebagai imbas dari krisis keuangan global. Meski demikian penurunannya relatif sangat kecil yang mencerminkan bahwa fondasi ekonomi Kabupaten Kerinci sesunguhnya masih cukup kuat.

Bila dilihat lebih jauh pola pertumbuhannya secara sektoral, peningkatan tertinggi terjadi pada sektor bangunan dan sektor listrik dan air bersih. Peningkatan nilai produksi rill sektor pertanian yang menjadi lapangan usaha sebagian besar penduduk Kabupaten Kerinci berada pada posisi ketiga. Sektor pertanian berperan sebagai pensuplai berbagai produk bahan makanan baik nabati maupun hewani untuk kebutuhan rumah tangga dan bahan baku industri. Sebagai kebutuhan pokok, permintaan komoditas bahan makanan bersifat relatif inelastis, artinya pengaruh harga dan pendapatan konsumen relatif kecil bila dibandingkan dengan pengaruhnya terhadap permintaan produk industri. Produk-produk pertanian yang berasal dari Kabupten Kerinci di suplai ke berbagai daerah di Sumatera dan Pulau Jawa bahkan ekspor ke negara tetangga. Faktor inilah salah satu yang menjadi keunggulan Kabupaten Kerinci sehinga daya tahannya relatif cukup tinggi terhadap guncangan eksternal.

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Kerinci

Menurut Lapangan Usaha Tahun 2001-2008 (dalam %)

Lapangan Usaha

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

Rata2

Pertanian

3,91

4,48

4,10

4,72

5,24

5,13

6,31

6,25

5,02

Pertambangan

3,06

3,61

3,72

3,78

1,89

0,72

3,49

4,17

3,05

Industri Pengolahan

2,13

2,32

2,22

3,03

3,84

6,52

5,26

5,62

3,87

Listrik & Air Bersih

2,43

11,39

21,44

13,04

5,20

7,41

2,99

3,38

8,41

Bangunan

3,77

3,79

22,34

14,01

13,37

9,58

6,83

6,78

10,06

Perdagangan

3,45

3,84

3,91

3,37

5,45

6,03

5,76

5,73

4,69

Pengktn & Komks

2,16

5,70

5,74

6,44

3,85

5,66

4,82

4,92

4,91

Keuangan

2,41

2,48

1,84

2,63

4,12

3,17

2,91

3,07

2,83

Jasa-jasa

3,93

4,46

5,68

5,46

2,72

4,46

4,34

4,23

4,41

PDRB

3,71

4,40

4,79

5,00

5,08

5,31

5,89

5,86

5,01

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kerinci, 2009

Sektor lain yang mengalami peningkatan nilai tambah cukup tinggi adalah pengangkutan dan komunikasi serta sektor perdagangan. Sektor pertama merupakan penyedia jasa infrastruktur pengangkutan dan komunikasi. Peningkatan nilai tambah yang cukup tinggi pada sektor ini bersumber dari peningkatan nilai tambah sub sektor komunikasi sebesar 5,86 persen per tahun, sementara peningkatan nilai tambah sub sektor pengangkutan tercatat sebesar 4,88 persen. Yang cukup menarik adalah, peningkatan margin jasa transportasi dan komunikasi terjadi dalam kondisi infrastruktur transportasi yang kurang memadai. Fakta ini dapat ditafsirkan sebagai pencerminan dari rendahnya efisiensi dalam kegiatan pengangkutan dan komunikasi. 

Peningkatan nilai tambah sektor pengangkutan dan komunikasi diiringi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran pada posisi berikutnya. Aktivitas sub sektor perdagangan terkait langsung dengan jasa yang dihasilkan sektor pengangkutan dan komunikasi. Sektor perdagangan berperan sebagai media yang mempertemukan produsen dan konsumen yang difasilitasi oleh sektor pengangkutan dan komunikasi. Peningkatan nilai tambah sub sektor perdagangan besar dan eceran yang mencapai 4,77 persen per tahun merefleksikan tingginya margin perdagangan yang diperoleh pelaku aktivitas ekonomi sektor ini. Peningkatan margin yang tinggi pada sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor perdagangan akan berimplikasi pada mengecilnya proporsi peningkatan nilai tambah yang diperoleh produsen sehingga aktivitas ekonomi secara keseluruhan akan menjadi kurang efisien.

Nilai PDRB Berdasarkan Harga Konstan Tahun 2000

Menurut Lapangan Usaha, Tahun 2000, 2005 dan 2008

(dalam Juta Rupiah)

Lapangan Usaha

2000

2005

2008

Pertanian

459.089,17

571.821,44

679.049,57

Pertambangan dan Penggalian

3.512,14

4.113,04

4.465,99

Industri Pengolahan

20.565,35

23.499,75

27.827,59

Listrik dan Air Bersih

3.653,78

6.020,22

6.885,57

Bangunan

  16.188,42

  27.570,92

   34.464,95

Perdagangan, Hotel & Restoran

60.359,94

73.439,33

87.067,66

Pengangkutan dan Komunikasi

28.131,69

35.506,07

41.253,36

Keuangan

6.728,50

7.684,54

8.408,70

Jasa-jasa

78.852,25

97.996,65

111.329,06

PDRB

677.081,23

847.651,97

1.000.752,4

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kerinci, 2009


Sektor keuangan tercatat sebagai sektor yang peningkatan nilai tambah atau pertumbuhannya paling rendah. Sektor keuangan merupakan urat nadi bagi perkembanan berbagai aktivitas ekonomi sektor rill. Laju pertumbuhan yang relatif rendah pada sektor ini dapat dimaknai sebagai refleksi dari lambannya perkembangan kegiatan pembiayaan aktivitas ekonomi di Kabupaten Kerinci. Kondisi ini terkait erat dengan terbatasnya aktivitas industri pengolahan, padahal aktivitas sektor ini memiliki mata rantai aktivitas lebih panjang yang menciptakan keterkaitan langsung atau tidak langsung ke aktivitas ekonomi dibagian hulu dan aktivitas industri lanjutan dibagian hilir. Hingga saat ini Kabupaten Kerinci masih berperan sebagai pemasok bahan mentah atau bahan baku ke daerah lain atau luar negeri terutama produk tanaman bahan makanan dan perkebunan. Pengolahan produk-produk lokal masih relatif terbatas pada industri rumah tangga dan industri kecil yang menghasilkan makanan olahan. Kondisi ini terlihat dari laju pertumbuhan sektor industri yang relatif rendah menempati posisi terendah ketiga setelah sektor keuangan dan sektor pertambangan dan pengalian. Tingkat industrialisasi yang masih sangat rendah membatasi aktivitas yang dapat dibiayai perbankan secara lebih luas. Namun dalam tiga tahun terakhir telah terjadi peningkatan laju pertumbuhan sektor industri pengolahan secara signifikan dibanding periode tahun 2000-2005. Sementara itu, aktivitas sektor pertambangan dan  penggalian di Kabupaten Kerinci masih sangat terbatas pada aktivitas sub sektor penggalian khususnya bahan galian golongan C.




 

Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Kerinci
© Copyright  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kab. Kerinci
Jalan Jenderal  Basuki  Rahmat  Nomor 09 Sungai Penuh, Kerinci - Jambi
Telepon (0748) 21708 Fax (0748) 324150
Website: www.kerincikab.go.id / Email: info@kerincikab.go.id